Sabtu, 17 Maret 2012

Nenek 80 Tahun Menyetir Tanpa Melanggar

Nisa Zakiati Umami
Rabu, 14 Maret 2012 19:50 wib
 2  22 0
Hazel Souma (Foto: EWN)
Hazel Souma (Foto: EWN)
CAPE TOWN - Souma Hazel dinobatkan sebagai 'contoh pengemudi teladan' di Afrika Selatan. Ini cukup mengejutkan mengingat negara tersebut penah mencetak rekor dengan catatan keamanan lalu lintas yang sangat buruk.   

Wanita yang berusia 80 tahun itu pertama kali mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) sejak 62 tahun yang lalu. Sampai sekarang belum pernah sekalipun dirinya menerima denda atau melakukan pelanggaran lalu lintas.  

Penyerahan sertifikat itu dilakukan oleh Menteri Transportasi, Sibusiso Ndebele. Di saat yang sama, dirinya juga menyerukan hukuman yang lebih ketat bagi orang-orang yang melakukan pelanggaran lalu lintas. Diketahui bahwa lebih dari 40 orang tewas di jalan-jalan raya Afrika Selatan setiap harinya.

"Souma tidak mempunyai catatan buruk dalam mengemudi dan itu adalah bukti bahwa kita semua masih bisa menghentikan kecelakaan di jalan-jalan. Itu tidak dapat dianggap normal karena setiap harinya lebih dari 40 orang tewas, padahal sebagian besar masih bisa kita hindari," ujar Ndebele, seperti dikutip dari BBC, Rabu (14/3/2012).  

Lebih dari 3.000 denda lalu lintas dikeluarkan oleh pihak berwenang pada bulan lalu. Disamping itu, hampir 7.000 pengemudi ditangkap pada periode yang sama, termasuk 2.000 diantara mereka didapati mabuk-mabukan saat mengemudi.

Kamis, 16 Desember 2010

Anggrek merupakan kelompok tumbuhan yang unik dengan berbagai tipe bunga, daun, dan 'gaya hidup'. Bunga anggrek sangat bervariasi dalam hal bentuk, ukuran, warna, dll. Demikian juga dengan daun, bervariasi dari berdaun pensil (bulat panjang) sampai berdaun lebar. Cara hidup anggrek juga bermacam-macam, ada yang epifit (menempel pada batang pohon atau tumbuhan lain), hidup di tanah (terrestrial), hidup secara amoebofit, bahkan ada yang hidup di dalam atau bawah tanah. Foto di atas adalah anggrek Vanda limbata di Loh Liang, Pulau Komodo.
Meskipun sebagian besar daratan di Taman Nasional Komodo termasuk kering, namun kawasan ini memiliki lebih dari 30 jenis anggrek. Kebanyakan anggrek-anggrek tersebut hidup di hutan pegunungan yaitu Gunung Ara dan Gunung Satalibo di Pulau Komodo. Anggrek yang paling mudah dijumpai di hutan dataran rendah terutama di kawasan wisata (Loh Liang da Loh Buaya) adalah anggrek Vanda limbata. Bunga anggrek yang berwarna kemerahan ini mekar hampir sepanjang tahun, tidak seperti kebanyakan anggrek hutan lain yang hanya mekar satu atau dua kali dalam setahun. Anggrek lain yang dapat dijumpai di hutan monsoon kawasan wisata terutama Loh Liang, Pulau Komodo adalah 2 jenis anggrek Dendrobium dengan bunga berwarna putih dan orange. Anggrek Dendrobium putih mekar sekitar bulan Juni, sedangkan Dendrobium orange mekar sekitar bulan September, kadang dijumpai mekar juga ada bulan Januari. Foto Anggrek di bawah ini adalah Disperis javanica J.J.Sm., satu-satunya jenis anggrek terestrial yang pernah dijumpai di kawasan TN Komodo, dijumpai di kaki Gunung Ara, Pulau Komodo (atas kiri); salah satu anggrek Nervilia sp yang berdaun lebar (atas kanan), dapat dijumpai di Loh Sebita (P. Komodo), Loh Baru dan Loh Dasami (P. Rinca); dan salah satu anggrek Dendrobium sp yang hanya dijumpai di Gunung Ara, Pulau Komodo (bawah).

Anggrek pegunungan di Gunung Ara dan Gunung Satalibo, Pulau Komodo biasanya mekar sekali dalam setahun pada bulan September atau Desember. Sebagian besar anggrek-anggrek tersebut belum dapat diidentifikasi, hanya beberapa jenis saja yang telah diketahui namanya. Misalnya Dendrobium secundum dan paling tidak ada 4 Dendrobium species yang lain, Saccolabium juncifolium (Bl.) J.J.S., Thrixspermum arachnithes, Pholidota imbricata Lindl., Sarcanthus sp, dan Eria sp. Kebanyakan anggrek di hutan pegunungan ini hidup secara epifit, namun ditemukan juga paling tidak dua jenis anggrek yang bersifat amoebofit yaitu Nervilia aragoana Gaudich dan Nervilia sp, yang memiliki semacam umbi di bawah tanah, ketika musim hujan akan mengeluarkan daun tunggalnya, dan setelah dormant (tanpa aktifitas) selama beberapa minggu akan mengeluarkan bunga sekitar bulan Desember. Informasi dan penelitian tentang anggrek di Taman Nasional Komodo ini masih sangat terbatas, pihak balai (TNK) membuka kesempatan untuk bagi siapa saja untuk melakukan penelitian ini (juga penelitian yang lain), tentunya melalui prosedur yang berlaku. Foto anggrek di bawah adalah Vanda limbata (kiri atas) yang dapat dijumpai hampir di seluruh hutan monsoon di kawasan TN Komodo terutama di Pulau Komodo dan Pulau Gili Motang; anggrek Dendrobium sp berbunga putih (kanan atas) yang juga dapat dijumpai di lembah-lembah (hutan monsoon), terutama di Pulau Komodo dan Pulau Gili Motang, namun tidak sebanyak Vanda limbata; sedangkan anggrek terakhir (bawah) adalah anggrek Thrixspermum arachnithes? yang baru diketahui hanya dijumpai di Gunung Ara, Pulau Komodo.

Diposting oleh Aganto Seno di 7:43 PM 0 komentar
Benarkah ada sungai bawah laut….?????
Jika kita berfikir alam mempunyai keajaiban yang terbatas, maka itu adalah pemikiran yang salah, menurut saya loh! Bagi saya masih banyak pemandangan dan keajaiban, yang menunggu untuk di temukan oleh manusia
Kecantikan alam terbaring di luar sana, dan mungkin belum terjamah oleh tangan manusia. Ada banyak tempat-tempat indah dan luar biasa di planet bumi ini yang perlu di jelajahi, pantai-pantai, pulau, bukit-bukit dan lautan masih menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya terkuak
Bagi anda yang suka menyelam ke dalam air, mungkin belum pernah menemukan tempat yang menyimpan keganjilan ini, jika kamu seorang penyelam profesional mungkin Cenote Angelita di Meksiko harus kamu kunjungi dan jangan lupa bawa tustel untuk di sharing di internet nantinya yah!:)
Cenote Angelita atau Goa Bidadari Kecil, tempat di mana terdapat 3 keganjilan sekaligus. Jika kamu menyelam sedalam lebih dari 30 meter maka kamu akan menemui bahwa air di sekitarnya segar layaknya air tawar, namun setelah kedalaman melebihi 60 meter maka air akan berubah menjadi asin, lalu kamu akan melihat pemandangan sebuah “sungai” dengan pepohonan dan daun-daun yang berguguran lalu mengambang

1. Lalu bagaimana ke dua jenis air itu tidak tercampur, air tawar tidak mempengaruhi air asin, juga sebaliknya?
2. Lalu bagaimana pepohonan disana bisa hidup dan tumbuh di dalam air tanpa oksigen dan cahaya matahari?
Untuk menjawab pertanyaan nomor 1, sebuah situs yang saya temukan mungkin menjawabnya secara ilmiah, walaupun tetap tidak memberikan jawaban mengenai “terpisahnya” ke dua jenis air ini, namun memberi jawaban kenapa bisa ada air segar di atas air asin ini: Namun sama sekali tidak ada penjelasan kenapa air tersebut tidak bercampur

Senin, 22 November 2010

ku terima apa adanya....

didaun yang ikut mengalir lembut
terbawa sungai ke ujung mata
dan aku mulai takut terbawa cinta
menghirup rindu yang sesakkan dada...